Install this theme

Turisme —- Titik Nol (Agustinus Wibowo) hal 184

Turisme dimulai dengan pola seperti ini. Si Dia tinggal di rumahnya yang sepi dan terpencil, namun nyaman berbahagia dalam dunianya sendiri. Lalu datang si Aku, menumpang dan menikmati rumah itu, memberi tahu bahwa rumah Dia adalah surga yang paling mulia. Si Dia senang, si Aku riang. Bagi Dia dan Aku ini sama-sama adalah kebahagiaan “menemukan surga”. Inilah perjalanan, penjelajahan, penemuan penuh kejutan, kebahagiaan sempurna, ketika masing-masing tidak memasang harapan apa-apa.

Semakin lama si Aku melihat rumah ini, semakin Aku merasakan betapa banyak cacatnya. Bocor di sini, bolong di situ, bagus begini, jelek begitu. Surga itu harus sempurna, begitu seru Aku. Inilah ketika keserakahan datang, mulai menggiring Aku untuk “menuntut surga”.

Di sisi lain, datangnya Aku yang murah hati membuat Dia berdendang menikmati madu yang Aku beri. Sungguh manis tak terkira, yang tak pernah Dia tahu dan rasakan selama ini. Semakin si Dia berpikir, bagaimana caranya memuaskan Aku agar memberi madu lebih banyak lagi, bagaimana caranya mengeruk keuntungan tanpa henti. Inilah awal hasrat untuk “mengubah surga”.

Si Dia terus berdandan sampai norak, memoles rumahnya, mengecat, menyapui, memasang barisan sofa paling nyaman. Si Aku memanggil gerombolan lusinan kawan-kawannya untuk bersama mencicip sensasi surga, seraya terus memuji sambil mengiming-imingi sesendok madu pada Dia, padahal itu adalah madu murahan, beracun laksana candu. Di sinilah terjadi transaksi “jual-beli surga”.

Si Dia semakin rakus menenggak madu, berusaha mati-matian, bahkan rela menjungkirbalikkan seluruh rumah dan segala isinya demi memikat hati para Aku, yang masing-masing punya kemauan beda-beda. Tuntutan para Aku semakin mewah dan mahal, sambil memerintah begini-begitu sekalian juga meninggalkan sampah-sampah menjijikkan berceceran. Inilah periode “penjajahan surga”, disusul “pembinasaan surga”.

Hingga akhirnya rumah mungil itu berantakan, menor awut-awutan, penuh penyakit, tak lagi nyaman dan indah, sama sekali tak ada istimewa. Si Dia yang kecanduan madu, semakin beringas dan memaksa, agresif tak lagi ramah. Mulut Aku dipenuhi sumpah serapah, mempertanyakan apakah ini sungguhan surga. Pesta surga bubar sudah, para tamu pergi tak bakal kembali, sementara tuan rumah terduduk merenungi rumah sepinya yang remuk rendam, tak mungkin balik ke wujud sederhana yang dulu lagi. Inilah saat “surga mati, lahirlah neraka.”

Dalam urusan perasaan, dimana-mana orang jauh lebih pandai menulis dan bercerita dibandingkan saat praktik sendiri di lapangan

Tere Liye - Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

(via kurniawangunadi)

banget!!

Kalo bukan kita yang peduli, siapa lagi..?

Hamdalah.. Minggu, 05 Mei 2013 lalu, saya dan perwakilan dari teman-teman telah berhasil melaksanakan kegiatan berbagi di daerah Tangerang Selatan dan sekitarnya.. adalah @hermawscrueller seorang sahabat dari negeri antah berantah yang pertama kali mendengungkan kabar ini di dunia perwhatsappan.. bermula dari pedagang es tungtung (atau sebagian orang yang lain menyebutnya es kenong) yang usianya tidak muda lagi, harusnya bapak ini istirahat saja di rumah, duduk uncang-uncang kaki, namun tidak dengan si bapak penjual es tungtung. Dia masih bersemangat berjualan,   bintaro - tanah kusir bapak ini mendorong-dorong gerobak es sendirian demi sebungkus nasi.. dari informasi yang beredar, si bapak berjualan setiap hari kecuali hari jumat, karena di hari jumatnya dia bertugas menjadi marbot masjid, sahabat yang mendengar kisah si bapak pun terharu dan berlari -walau sebenarnya si sahabat hanya berjalan kaki- menginformasi grup whatsapp kami, AKJ Family, memberitahu keadaan penjual es tungtung langganannya.
Banyak sekali dari teman-teman lain yang merasa iba, dan tertarik hatinya untuk mencari pemecahan permasalahan ini. Bahwasanya, di sekitar kita pun masih banyak para orang tua yang harus berjuang demi sepiring nasi buat anak istri di rumah. Miris rasanya… Seharusnya mereka sudah enak duduk duduk di rumah, menikmati segelas teh hangat tanpa perlu memusingkan biaya sekolah cucu, atau akan makan apa nanti kita ya nak? Duh… 
 
Dari situlah, banyak ide ide kreatif bermunculan. Salah satunya Cici Sylvia. Cici bercerita, di keluarganya ada tradisi bagi-bagi sembako setiap awal bulan. Biasanya mereka menyisihkan penghasilan tiap bulan untuk dibelikan sembako dan diberikan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan.
Kami, mahasiswa-mahasiswi karyawan-karyawati dengan modal seadanya berusaha mengumpulkan dana untuk melakukan hal yang sama. Dengan tagline: Kalo bukan kita yang peduli, siapa lagi..? 
Iya benar adanya. Jika bukan saya, kamu, dan kita yang peduli, maka siapa lagi yang akan peduli? Jika hari ini kita sudah merasakan kenyang sehabis menyantap makanan yang enak di lidah, apakah tetangga-tetangga kita sudah merasakan demikian? Kita tak pernah tahu, jika kita tak pernah mencari tahu. Oh, andai kenyang bisa ditularkan ~~ 
Tapi nyatanya tidak. Mungkin karena itulah Tuhan menciptakan perasaan empati, agar manusia peduli dan bisa berbagi.
 
Setelah dua minggu si sahabat menggembor-gemborkan niat ini via social media seantero nusa bangsa, akhirnya kami dapat memenuhi amanah tersebut. Mulai dari pengumpulan dana, pembelian sembako, kegiatan bungkus-membungkus ke dalam plastik, ditenteng dari satu gang ke gang lain, dari satu rumah ke rumah lain, dari satu nenek ke nenek lain, dari satu senyum ke senyum yang lain.. Oh Tuhaaan.. Inikah yang dinamakan perasaan lega?
 
Ada nenek yang ketika kami datang ia hanya duduk terbengong di dipan, setelah kami berikan sebungkus sembako yang berisi 3 liter beras, 5 bungkus mie instant, 1/2 kg gula pasir, 1 kotak teh celup, dan 1 liter minyak goreng, wajah si nenek berubah sumringah. Di mata nenek itu terdapat perasaan bahagia, ada bulir-bulir yang terlihat jelas di ujung matanya, sembari si nenek menyunggingkan senyum di balik wajah berkerut dan di balik gigi ompongnya, si nenek berkata “alhamdulillah neng…semoga sekolahnya pinter semua ya neng, bisa manfaat, lancar rejekinya, lancar jodohnya, sehat awaknya ya neng….” Saya terharu.. Dengan keadaan sesederhana itu, nenek pun masih menyempilkan serentetan doa untuk kami.  
 
Terima kasih kami haturkan kepada semua pihak terkait yang sudah terlibat langsung dan tidak langsung.. Semoga tiap amal kebaikan kalian dibalas dengan pahala yang berlimpah oleh Allah Swt. Semoga tiap amal yang kita perbuat mendatangkan manfaat bagi yang menerima, dan kita semua mendapatkan barokah dan ridho Allah atas amal tersebut.  Aamiin yaa Robbal alamin.
 
Dan saya terus berdoa, semoga kegiatan seperti ini terus berjalan secara rutin di bulan-bulan mendatang. Semoga semakin banyak yang terketuk pintu hatinya untuk berbagi, semoga semakin banyak yang peduli, semoga semakin banyak yang berbuat lebih baik untuk orang banyak dari kami. Barakallah fiikum. 
Aamiin
 
We see, we feel, we care, we share, we do it together :)
 
07 Mei 2013
isnidalimunthe:

I will! :):):):):):):)

isnidalimunthe:

I will! :):):):):):):)

!!!

!!!

another beautiful sunset..

another beautiful sunset..

eh?

eh?

kurniawangunadi:


yes I did

and with your writing too :))

kurniawangunadi:

yes I did

and with your writing too :))

View My Stats